Kapribaden Header
Home Romo Herucokro Semono Kapribaden Organisasi Pengalaman Sejati Tanya Jawab F.A.Q. Kontak
 
Home » Kapribaden » Buku Hidup Bahagia » Halaman 15
 
Buku Hidup Bahagia
   
Halaman : [1] ... [13] [14] [15] [16] [17]... [33]
 

 

PENGHAYATANNYA

Sesudah kita menggunakan “Kunci”, sebenarnya 7 (tujuh) lapis raga kita, jadi kita manusianya, menyembah kepada Hidup. Kita berjanji, akan menjadi Abdinya Hidup. Sembah kita kepada Hidup, akan diteruskan kepada Hidup yang menghidupi alam semesta seisinya, Tuhan Yang Maha Esa.

Jadi, kita memulai suatu penghayatan, yang sekaligus Pengalaman suatu laku, yaitu yang disebut Laku Kasampurnan Manunggal Kinantenan Sarwo Mijil, atau secara umum juga dikenal sebagai Penghayatan Kapribaden.

Agar tidak salah faham, laku ini adalah sebagai berikut :

Bisa dijalani (dihayati dan diamalkan) atau “dhilakoni” oleh anak umur 3 tahun. Asal sudah bisa menghafal “Kunci”, sudah bisa menghayati dan mengamalkan laku ini.

Bahkan Sarana Gaib ini, sudah bisa diberikan kepada bayi yang baru lahir. Penghayatan ini, tidak mengenal keharusan “tirakat”, “melekan”, berpuasa “ngebleng”, “kumkum” (berendam di air), meditasi dan sebagainya.

Inti Penghayatannya adalah :
Selalu tidak lupa kepada Hidup lalu selalu minta prtunjuk Hidup sebelum melakukan apapun dan mengikuti segala petunjuk Hidup, sekalipun bertentangan dengan keinginan dan kehendak kita semula.

Karena Guru Sejatinya Hidup kita sendiri, maka Guru Sejati itu yang paling tahu atas diri kita, dan Guru Sejati itu yang tahu apa sebenarnya kehendak Tuhan atas diri kita, dan bagaimana seharusnya melaksanakan semua itu. Guru Sejati itu akan selalu menyesuaikan dengan keadaan kita, kalau kita masih umur sekolah Taman Kanak kanak, maka Guru Sejati itu akan jadi Guru Taman Kanak kanak. Bagi yang sudah dewasa, Guru Sejati akan jadi Dosen atau maha Guru-nya.

Guru Sejati, dalam memberikan tuntunan berupa petunjuk kepada kita, sesuai dengan nasib yang kita alami, kita jalani dan kita hadapi serta kita kerjakan masing masing.

Maka, tidak ada 2 orang yang petunjuknya Hidup sama. Cap jari 2 orang Saudara kembarpun, tidak sama.

Laku kita sama, yaitu sama sama mengikuti Hidup, tetapi Lakon kita berbeda satu sama lain.

Petunjuk Hidup, diberikan sesuai lakonnya masing masing, tetapi intinya sama, yaitu agar tidak menyimpang dari jalan yang dikehendaki Tuhan atas diri kita masing masing.

Penghayatan ini, sedikitpun tidak menyuruh orang meninggalkan hal hal yang bersifat duniawi. Jadi, dalam menjalani kehidupan dan penghidupan, malahan harus wajar, harus biasa saja.

Kesenangan duniawipun, boleh dirasakan, dinikmati. Tetapi kita akan selalu dituntun, kesenangan yang bagaimana yang tepat untuk diri kita. Jadi kita terhindar dari menikmati kesenangan, yang kemudian berakibat kesedihan atau kesengsaraan.

Yang memang ditakdirkan harus kaya, juga boleh, tetapi akan selalu dituntun, agar kekayaan yang didapat sekarang ini, tidak mencelakakan atau menyengsarakan di kemudian hari. Termasuk tidak akan mencelakakan atau menyengsarakan anak cucu.

Memiliki kekuasaan (tentu saja sementara), juga boleh. Akan dituntun, agar jangan salah menggunakan kekuasaan itu. Sehingga hasilnya akan lebih kekal, karena sesuai yang dikehendaki Tuhan.

Yang ingin cukup, juga boleh, artinya selalu ter-cukup-i, segala yang dibutuhkan. Bukan yang diinginkan.

Semua itu, bukan kita yang menentukan, tetapi setelah kita terima, kita tidak akan berjalan salah-arah, dengan apa yang ada pada diri kita.

 

Copyright © 2005-2026 Kapribaden - V.1.9. All rights reserved.